
Terdengar bel pulang sekolah, semua murid mulai berhamburan keluar untuk pulang. Raya alias Zelina dan Zeneb pergi keluar sekolah. Hingga tiba-tiba terlihat sesosok laki-laki tinggi, putih, tampan, dengan hidungnya yang sangat mancung duduk di motor pespa. Perlahan laki laki itu menghampiri zeneb dan tersenyum manis.
“Langsung pulang atau masih ada kumpulan lagi di sekolah?” Tanya laki-laki tersebut.
“Langsung pulang aja.” Jawab Ibu Zelina dengan senyum lebarnya.
Zelina menyenggol lengan ibunya, “itu siapa?” tanya Zelina penasaran.
“Itu Zafran Ibrahim, sekolah di SMA sebelah” jawab Zeneb jujur.
“Zafran? Seperti nama Ayah.” Ucap Zelina dalam hati.
“Pacarmu ya?” celetuk zelina pura-pura menebak.
Zelina melihat pipi ibunya bersemu merah, “Iyaa itu pacarku” zeneb menjawab malu-malu.
“Benar kah itu pacarmu? Wah kamu pinter pilihnya dan aku yakin dia juga pria yang setia dan penyayang.” saut Zelina mendengar itu Ibunya hanya tersenyum tipis.
Zelina berpikir apakah ini ayahnya yang sudah meninggal sejak dirinya masih kecil? Ternyata ayahnya sangat tampan, beruntung sekali ibunya mendapatkan laki-laki yang tampan sepeti ayahnya. Dalam hati kecil Zelina ingin memeluk sosok laki-laki yang ia yakini ayahnya. Zelina sangat rindu sekali dengan ayahnya, meskipun wajah sanh ayah ia tidak ingat.
“Kalau gitu pulang yuk?!” Ajak Zafran pada Zeneb.
“Eh tapi raya gimana?” Zeneb menatap Raya alias Zelina.
“Oh iya ya, kalo engga…”jawab Zafran yang dipotong perkataannya oleh Zelina.
“Gak papa Zeneb, kamu pulang saja dengan Zafran” Raya alias Zelina memotong perkataan mereka.
“Ya sudah, kalo gitu kami pulang duluan ya” ujar Zeneb.
“Iyaaa hati hati dijalan. Zafran jagain Zeneb ya dadah…” Sahut Zelina sambil melambaikan tangan yang dibalas oleh Zeneb.
Malam mulai datang, Zelina merasa kalaparan, lalu ia pergi keluar rumah untuk mencari makanan. Sekarang Zelina tau bagaimana menjadi orang kaya, saat ini ia mempunyai banyak uang karena tante Raya adalah orang berkecukupan dahulu. Namun, sayangnya orang tuanya tidak pernah ada untuknya, setiap minggu yang ia dapat hanya uang.
Setiba disuatu cafe dia memesan makanan kepada pelayan yang ada disitu. Tak lama kemudian, makanan tersebut datang dan yang mengantar makanan itu adalah Zeneb, Zelina sontak terkejut melihatnya Zeneb sebagai pelayan atau waiters.
“Zeneb kamu kerja disini?” ucap Zelina yang masih terkejut sama halnya dengan Zeneb.
“Iya Raya” jawab Zeneb pelan.
“Kenapa kamu kerja, kamu kan masih sekolah?” Tanya Zelina.
“Aku ingin membantu keluargaku, untuk mencukupi kebutuhan mereka. Sekalian bantu bayar uang sekolah.” Ujar Zeneb.
“Sejak kapan kamu bekerja?” Zelina bertanya.
“Sejak aku pertama kali masuk SMA.” Balas Zeneb.
“Sudah lama sekali, apa kamu tidak lelah pulang sekolah langsung kerja? Belum lagi ada tugas sekolah.” Zelina terus bertanya.
“Ya mau gimana lagi aku ingin keluargaku bisa hidup enak.” saut Zeneb.
“Ya sudah kalau gitu, kamu ikut makan yuk denganku” Ajakan Zelina kepada Zeneb.
“Maaf Raya aku tidak bisa, aku harus kembali bekerja lagi.” Tolak Zeneb.
“hmm gitu ya, ya sudah kamu lanjutin aja kerjanya” Zelina menjawabnya.
Dibenak Zelina terbayang, ternyata ibunya sosok orang yang sangat pekerja keras dan dahulu hidup ibunya tidak mudah. Dia selalu memikirkan keluarganya agar tidak hidup kesusahan. Tidak seperti Zelina yang hanya bisa menuntut tanpa memikirkan perasaan ibunya. Zelina menangis dalam diam sembari memakan makanannya, Zelina sadar kalau dirinya adalah anak yang sangat buruk.
Setelah makanan Zelina habis, dia langsung beranjak pergi dari cafe tersebut, dia keluar dari tempat itu. Zelina melihat sesosok kakek-kakek renta yang sedang menatapnya dari jauh membuat Zelina merasa khawatir. Dia sangat heran, kakek itu melihatnya dengan serius.
“Siapa dia?” Ujar Zelina dalam hati.